MAKASSAR.portalcelebes.com- Isra Mi’raj sering kita ingat sebagai kisah menembus langit. Tentang Nabi Muhammad yang melampaui ruang dan waktu, tentang mukjizat, dan tentang salat yang menjadi hadiah utama. Namun, dalam dunia yang kian sesak oleh krisis iklim, kisah ini layak dibaca ulang—bukan hanya sebagai peristiwa spiritual, melainkan sebagai peringatan ekologis.
Sebab sebelum Nabi naik ke langit, ia singgah di bumi. Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Sebuah perjalanan horizontal yang kerap luput dari perhatian. Padahal, di sanalah pesan penting itu bersemayam: bahwa iman tidak pernah tercerabut dari ruang hidup.
Masjidil Aqsa bukan sekadar titik transit. Ia adalah simbol tanah, sejarah, dan lanskap ekologis. Dengan singgah di sana, Islam sejak awal menegaskan bahwa spiritualitas tidak boleh melayang tanpa pijakan. Bahwa hubungan dengan Tuhan selalu berkelindan dengan tanggung jawab menjaga bumi.
Hari ini, bumi kita sedang tidak baik-baik saja. Sungai dipenuhi limbah, hutan ditelanjangi, udara dijejali emisi. Ironisnya, semua ini terjadi di tengah masyarakat yang rajin beribadah. Di sinilah ekoteologi Islam menemukan relevansinya: iman yang tidak berbuah etika ekologis adalah iman yang rapuh.
Isra Mi’raj menghadirkan salat sebagai puncak pengalaman spiritual. Namun salat bukan sekadar ritual. Ia adalah ritme kosmik. Waktu-waktunya mengikuti pergerakan matahari. Subuh lahir dari fajar, Magrib dari tenggelamnya cahaya. Artinya, Islam mengajarkan manusia membaca alam sebelum membaca teks.
Sayangnya, kesadaran ini kerap hilang. Kita berwudu tanpa menghitung tetes air. Kita sujud di atas sajadah, lupa bahwa sajadah itu berasal dari tanah, air, dan rantai alam yang panjang. Ibadah menjadi vertikal, tetapi kehilangan dimensi ekologisnya.
Ekoteologi mengingatkan: tidak mungkin seseorang mengaku dekat dengan Tuhan sambil merusak ciptaan-Nya.
Buraq, makhluk yang membawa Nabi dalam perjalanan agung itu, sering dimaknai sebagai simbol kecepatan. Dalam konteks hari ini, ia bisa dibaca sebagai metafora teknologi. Teknologi yang membawa manusia melampaui batas. Namun Isra Mi’raj memberi garis tegas: kecepatan tanpa nilai hanyalah pelarian.
Teknologi yang menghisap sumber daya tanpa kendali, yang meninggalkan jejak karbon dan limbah, adalah teknologi yang gagal bermi’raj. Ia bergerak maju secara material, tetapi jatuh secara moral.
Islam sejatinya menawarkan konsep rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi seluruh semesta, bukan hanya bagi manusia. Al-Qur’an menyebut keseimbangan (mizan) sebagai hukum kosmik.
Merusaknya berarti melawan sunnatullah. Dalam perspektif ini, menjaga lingkungan bukan agenda tambahan, melainkan bagian dari ibadah itu sendiri.
Isra Mi’raj juga mengajarkan satu hal penting: Nabi kembali ke bumi. Ia tidak tinggal di langit. Pengalaman spiritual tertinggi justru menuntut tanggung jawab sosial dan ekologis yang lebih besar. Semakin tinggi iman seseorang, seharusnya semakin ringan jejak ekologisnya.
Di tengah krisis iklim, umat Islam ditantang untuk menurunkan iman ke ranah praksis. Masjid bukan hanya tempat salat, tetapi juga pusat edukasi lingkungan. Sedekah bukan hanya untuk manusia, tetapi juga untuk memulihkan alam. Kesalehan bukan sekadar rajin berdoa, melainkan juga hemat air, bijak energi, dan adil terhadap bumi.
Isra Mi’raj bukan kisah melarikan diri dari dunia. Ia adalah pelajaran tentang bagaimana kembali ke dunia dengan kesadaran yang lebih utuh. Bahwa langit hanya bisa disentuh oleh mereka yang menjaga bumi.
Dan barangkali, doa-doa kita baru akan benar-benar naik—ketika bumi berhenti kita lukai.













